Bunga mawar yang indah cantik berseri banyak kupu-kupu yang mengelilingi Oh hai kupu-kupu kecil kau datang karena tertarik dengan bunga yang kurawat ya bunga-bunga ini kurawat seperti anakku sendiri mereka sangat cantik bukan seandainya saja aku juga bisa punya anak.
Hai Bu Ros ah siapa anda tenanglah jangan takut aku ibu peri di hutan ini aku mendengar hati kecilmu Kau sungguh merawat bunga-bunga di sini dengan baik sebagai gantinya doamu akan aku kabulkan. Bukalah tanganmu Apa maksudmu ibu peri tanamlah benih itu dan rawatlah benih itu dengan baik jika kau merawatnya dengan baik maka kau akan memperoleh apa yang kau inginkan. Selamat tinggal Ibu Ros, eh tunggu dulu apa maksud ibu peri tadi dari biji ini aku bisa mendapatkan anak.
Siang itu Ibu Rose menanam benih pada sebuah pot kecil di dekat jendela setiap hari Ibu Rose merawat dengan penuh kasih sayang menyiram sambil mendendangkan lagu bunga mawar yang indah cantik berseri banyak kupu-kupu yang mengelilingi benih yang ditanam itu terus tumbuh hingga menjadi bunga yang cantik ketika bunga itu Mekar muncullah seorang gadis kecil dari dalam kelopak Astaga sungguh gadis kecil yang cantik mungil sekali dia Aku akan beri nama dia Thumbelina bunga mawar yang indah cantik berseri banyak kupu-kupu yang mengelilingi walau sudah tumbuh tinggi namun tubuhnya hanya sebesar jari Thumbelina bahkan bisa tidur di atas kulit kenari gadis ini rupanya yang bernyanyi dengan sangat merdu.
Tiba-tiba datanglah ayah kodok yang ingin membawa Thumbelina beserta kasur kenarinya ke danau pelan-pelan Ayah kodok mengangkat kasur kenari itu ke atas sebuah teratai.
Saat pagi menyingsing Thumbelina pun terbangun “Hah Sudah pagi rupanya Kenapa aku tak mendengar suara ibu di mana aku Mengapa aku berada di tengah-tengah air” “begini kau sudah bangun rupanya gadis cantik” “di mana Ibu ku” kau kubawa ke sini karena kau akan ku nikahkan dengan Putraku.
Percakapan Ayah kodok dan Thumbelina itu terdengar oleh para ikan. “Kasihan sekali Gadis itu akan dinnikahkan dengan katak pemalas, kita bantu dia melarikan diri saja”. Malam harinya ikan-ikan itu beraksi “ikan, aku akan membantumu pergi dari sini bertahanlah di teratai ini ya pegangan yang kuat” “Baiklah terima kasih ikan” para ikan pun menggigit akar teratai hingga putus. “Terima kasih banyak ikan Aku tak akan melupakan kalian” dengan teratainya Thumbelina mengarungi sungai yang luas ia sungguh menikmatinya sepanjang perjalanan Ia terus saja bernyanyi bunga mawar yang indah cantik berseri banyak kupu-kupu yang mengelilingi suara Merdunya itu didengar oleh seekor serangga namun Thumbelina tak sadar jika teratai yang ditumpanginya mengarah ke air terjun Gadis itu dalam bahaya aku harus menolongnya.
Hai Tenanglah Aku berusaha menolongmu dari bahaya kau lihat air terjun itu hampir saja kau terjun ke sana sekarang aku akan membawamu ke tempat yang aman Thumbelina Lalu tiba di rumah serangga kau tunggu di sini ya jangan khawatir teman-temanku tak akan jahat padamu terima kasih tuan serangga. “Hai kepala suku dia akan jadi penghuni baru di sini”, “apa-apaan kau Lihatlah dia seperti manusia sungguh jelek sekali ia tak punya antena tak punya sayap ia sungguh berbeda dengan kita bahwa dia pergi dari sini dia pasti akan menyusahkan kita saja”.
“Maafkan aku Thumbelina tak kusangka kalau ketua akan menolakmu seperti itu” “tak apa Tuan serangga”. Serangga pun meninggalkan Thumbelina di daratan yang sejuk.
Thumbelina berjalan menyusuri hutan siapa tahu dia bisa bertemu dengan orang baik yang mau menolongnya. “Ada rumah di dekat sini coba ke sana ah, siapa tahu pemilik punya makanan Aku sungguh lapar permisi Ya siapa ya, Permisi Nyonya tikus namaku Thumbelina aku tersesat dan kelaparan, Apakah kau punya sedikit makanan?” “masuklah Kebetulan aku baru saja memasak sup jagung maaf ya Jika rumahku berantakan aku tinggal sendiri suamiku telah lama meninggal”(sahut Nyonya tikus) “ah Nyonya tikus sebagai balasan memberiku sup aku akan membantumu membersihkan rumahmu”(Jawab Thumbelina). “Kamu mau melakukannya terima kasih, Kau sungguh gadis yang baik”.
Selesai makan Thumbelina lantas membersihkan rumah Nyonya tikus dengan giat. “Wah aku sampai lupa kalau rumahku seluas ini.
“Selamat pagi Nyonya tikus Seperti biasa aku kemari untuk menagih hutangmu”(sahut tikus tanah) “Tapi beberapa minggu ini panen kurang begitu bagus Tuan tikus tanah.” “Siapa dia cantik sekali aku mau menikahinya kalau kau setuju maka hutangmu akan lunas” “kalau kamu mau boleh saja Tuan tikus tanah”.
Malam harinya Thumbelina tidak bisa tidur ia terus memikirkan perkataan Nyonya tikus tak kusangka Nyonya tikus akan menyerahkanku seperti itu aku harus melarikan diri dari rumah ini. Malam itu juga Thumbelina pergi meninggalkan rumah nyonya tikus.
“Di mana Aku ini, oh kasihan sekali kau Pipit kecil Aku akan coba membantumu Ibuku pernah mengajariku cara mengobati luka aku akan cari tanaman obat di sekitar sini.” “Terima kasih gadis kecil, sebagai ucapan terima kasih aku akan membawamu terbang ke tempat yang indah burung pipit lalu membawa terbang”.
Tambelina, “Wah ini keren sekali turunkan Aku di sini ya, aku ingin melihat kebun bunga itu.” “Baiklah Thumbelina Terima kasih.”Menghilangkan rasa rindu pada ibunya Thumbelina menyanyikan lagu yang selalu dilantunkan ibunya.
“Hai kau yang disana aku mendengar nyanyianmu merdu sekali Namaku Pangeran Aron aku penguasa kebun bunga ini siapakah namamu?” “Namaku Thumbelina Pangeran Aron terima kasih atas pujiannya.” “Kau sungguh cantik Kebetulan sekali aku sedang mencari istri calon istriku haruslah pandai menyanyi karena nantinya dialah yang harus merawat Padang bunga ini, para bunga hanya mau Mekar jika mendengar nyanyian yang merdu.” “aku bisa menikahimu asal kau bisa Membawaku Kembali ke Ibuku dan meminta izin Pada Ibuku maka aku akan bersedia menikah denganmu.” “Tentu saja aku akan menemui ibumu sebagai hadiah perkenalan kita, kau akan kuberi sayap.” “Astaga sayap ini sungguh cantik aku bisa mengepakkannya, ayo kita terbang menemui ibumu.” Pangeran Aron dan Thumbelina segera terbang menuju rumah Thumbelina.
Saat terbang Thumbelina melalui tempat-tempat yang sebelumnya telah dia singgahi Thumbelina “Oh anakku kau kembali ibu sungguh khawatir, Siapakah yang datang bersamamu ini?”. Cerita pun ditutup dengan Thumbelina yang menikah dengan pangeran Aron dan disaksikan oleh Ibu Ros.
Pesan moral dari cerita ini adalah apa yang kamu tanam itulah yang kamu tuai tanamlah kebaikan maka kau akan mendapatkan kebaikan jua.

Komentar
0 comment